Budi Di Ujung Pena

Semakin jauh berlayar, semakin besar gelombang.” Kalimat itu bukan sekadar metafora, melainkan hukum kehidupan. Setiap langkah maju membawa tantangan baru. Setiap pertumbuhan menghadirkan ujian yang lebih berat. Tidak ada pelaut berpengalaman yang berharap laut selalu tenang, sebagaimana tidak ada manusia dewasa yang tumbuh tanpa luka dan ujian.


Laut memang ganas. Ia bisa menghempas, mengguncang, bahkan menenggelamkan. Namun laut bukan musuh. Ia adalah bagian dari ekosistem kehidupan itu sendiri. Kita tidak diciptakan untuk melawannya, melainkan untuk memahaminya. Sebab melawan laut hanya akan menguras tenaga, sementara memahami arus membuat kita tahu kapan harus menguatkan layar dan kapan menurunkannya. Begitu pula hidup. Banyak orang lelah bukan karena beban terlalu berat, melainkan karena terlalu sering memusuhi keadaan. Kita marah pada takdir, kecewa pada proses, dan merasa hidup tidak adil. Padahal, setiap fase sulit sering kali bukan hukuman, melainkan latihan kedewasaan.


Dalam perjalanan hidup, badai sering datang tanpa aba-aba: kegagalan usaha, kehilangan orang tercinta, pengkhianatan, kesepian, atau jalan yang terasa buntu. Di saat seperti itu, ketenangan bukan berarti pasrah, melainkan kesadaran bahwa tidak semua hal harus dilawan dengan emosi. Ada kalanya yang dibutuhkan hanyalah kesabaran untuk bertahan satu hari lagi, satu tarikan napas lagi. Kesabaran bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan sunyi. Ia menahan ego agar tidak tergesa, menjaga hati agar tidak pahit, dan melatih jiwa untuk tetap percaya meski belum melihat ujung jalan. Orang yang sabar bukan orang yang diam, tetapi orang yang tetap bergerak walau perlahan, tanpa kehilangan arah.


Setiap pelaut tahu bahwa tujuan berlayar bukan menaklukkan ombak, melainkan mencapai dermaga. Begitu pula hidup. Tujuan kita bukan mengalahkan semua masalah, melainkan sampai pada titik di mana kita menjadi lebih bijak, lebih utuh, dan lebih damai. Dermaga harapan itu tidak selalu berupa keberhasilan besar; kadang ia hadir sebagai hati yang tenang, penerimaan yang lapang, dan keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan perjalanan siapa pun. Dalam spiritualitas, cobaan bukan tanda ditinggalkan, tetapi tanda bahwa seseorang sedang diproses. Seperti besi yang ditempa agar kuat, jiwa juga dibentuk melalui tekanan. Yang membedakan hanyalah cara kita meresponsnya. Ada yang menjadi pahit, ada pula yang menjadi matang.


Maka jika hari ini hidup terasa bergelombang, izinkan diri untuk berhenti sejenak, mengatur napas, dan mempercayai arah. Tidak semua badai datang untuk menghancurkan; sebagian datang untuk mengajarkan cara berlayar dengan lebih bijak. Tenanglah. Tidak apa-apa lelah. Tidak apa-apa takut. Yang penting, jangan berhenti berharap. Karena selama kita masih mau berlayar dengan hati yang jujur dan niat yang lurus, laut — sekeras apa pun — tetap akan memberi jalan.


Dan pada waktunya, ketika dermaga itu terlihat di kejauhan, kita akan mengerti: semua gelombang yang pernah datang ternyata tidak pernah berniat menenggelamkan. Ia hanya ingin mengajarkan kita cara bertahan, percaya, dan pulang dengan jiwa yang tenang..

Ikuti berita terbaru di Google News

Redaksi Suara Pantau Sulsel menerima naskah opini dan rilis berita (citizen report).
Silahkan kirim ke email: redaksisuarapantau@gmail.com atau Whatsapp +62856-9345-6027